Tafsir Surah An-Naziat (Bag. 2): Keadaan Mengerikan Bagi Orang Kafir di Akhirat
Tafsir ringkas kita memasuki bagian kedua dari tafsir surah An-Nazi’at. Pada bagian ini, fokus penekanan adalah tentang keadaan mengerikan yang dialami orang-orang kafir karena mendustakan dan bahkan meledek akan datangnya hari kiamat. Ketika Nabi Muhammad berdakwah tentang hari kiamat, kaum musyrik menghina beliau dengan mengucapkan perkataan yang menyakitkan hati.
Ketidakpercayaan terhadap hari kiamat ini masih berlangsung sampai hari ini, berawal dari pemikiran filosofis sesat seperti materialisme, ateisme, humanisme sekuler, atau eksistensialisme nihilistik. Mereka tidak percaya bahwa setelah kematian akan ada kehidupan. Al-Qur’an diserang dengan berbagai syubhat busuk yang mereka lontarkan. Maka Allah menjelaskan bahwa para pengingkar hari kiamat ini akan merasakan azab yang mengerikan di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُۙ , تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ
“(Kamu benar-benar akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang (alam semesta). (Tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 6-7)
Kedua ayat ini menjelaskan tentang tiupan sangkakala pada hari kiamat. Tiupan pertama membuat seluruh alam semesta bergoncang dam bergejolak, kemudian hancur lebur semua hal yang Allah kehendaki hancur. Akan tetapi, ada sebagian hal yang Allah takdirkan tetap selamat di hari itu seperti ‘arsy, lauh mahfudz, dan semisalnya.
Setelah tiupan pertama, maka akan datang tiupan kedua. Akan tetapi, kita tidak tahu secara pasti berapa lama jarak antara tiupan pertama dan kedua. Tiupan kedua ini membangkitkan manusia dari kubur mereka.
ال ابن عباس: الراجفة والرادفة هما النفختان الأولى والثانية، أما الأولى فتميت كل شيء بإذن الله تعالى، وأما الثانية فتحيي كل شيء بإذن الله تعالى
“Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan bahwa ar-rajifah dan ar-radifah adalah tiupan sangkakala pertama dan tiupan yang kedua. Dengan tiupan pertama, matilah semua hal yang Allah kehendaki. Adapun dengan tiupan kedua, maka hiduplah para makhluk dengan izin Allah.” (Shofwatut Tafasir, hal. 489)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً . فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَىْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهْوَ عَجْبُ الذَّنَبِ ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Kemudian Allah Ta’ala akan menurunkan air hujan dari langit. Maka mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya tunas. Tidak ada dari badan manusia sesuatu, kecuali akan hancur. Kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Dan darinyalah akan akan dibentuk manusia pada hari kiamat.” (HR Bukhari no. 4935)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قُلُوْبٌ يَّوْمَىِٕذٍ وَّاجِفَةٌ
“Hati manusia pada hari itu merasa sangat takut.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 8)
Dijelaskan bahwa hati yang sangat merasa takut pada hari itu adalah hati orang-orang kafir dan musyrik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ
“Pandangannya tertunduk.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 9)
Mata mereka tertunduk karena sangat takutnya melihat berbagai kengerian di hari kiamat.
Hamka memberikan penafsiran bahwa hati berdebar lantaran takut dan ngeri memikirkan persoalan yang akan dihadapi setelah meninggalkan hidup yang sekarang, kegelisahan mengingat dosa-dosa yang telah lampau. Penglihatan tertunduk ke bawah karena sesal yang tidak berkeputusan, umur sudah habis, buat kembali kepada zaman yang lampau pun tak bisa lagi.
Orang-orang yang tidak mau percaya, yang menyangka bahwa hidup hanya hingga ini saja; dengan mati, habislah segala perkara; tidaklah mereka mau percaya bahwa manusia akan dihidupkan kembali dalam kehidupan yang lain. (Tafsir Hamka, hal. 7873)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِ
“Mereka (di dunia) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan pada kehidupan yang semula?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 10)
Orang kafir merasa sangat takut, karena mereka dahulu di dunia mengejek dan menghina akan datangnya hari kiamat. Mereka berkata dalam rangka menghina, “Apa mungkin setelah mati, kita bisa hidup lagi seperti sediakala?!”
Setelah orang-orang kafir mendengar berita tentang adanya hari kebangkitan setelah mati, mereka merasa heran dan mengejek karena menurut keyakinan mereka, hari kebangkitan itu tidak ada. Itulah sebabnya mereka berkata demikian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً
“Apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur, apakah kita (akan dibangkitkan juga)?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 11)
Mereka juga mengejek, “Apa bisa setelah kita menjadi tulang yang hancur lebur, dikembalikan seperti baru lagi?!”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ
“Mereka berkata, “Kalau demikian, itu suatu pengembalian yang merugikan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 12)
Mereka meledek kembali, “Kalau seandainya memang hari kebangkitan itu nyata, maka pasti kita akan tersiksa, karena kita akan jadi penghuni neraka.”
Setelah mendengar keterangan sejelas itu disertai penjelasan yang meyakinkan, tersadar pikiran mereka sejenak, “Kalau memang kita akan dihidupkan kembali, niscaya rugilah kita, karena kita tidak bersiap terlebih dahulu menghadapi hari itu dengan amal-amal yang baik.” Mereka terpengaruh oleh pergaulan dengan sesama orang kafir. Mereka tidak mempunyai daya upaya atau kekerasan jiwa buat mencabut diri dari pergaulan kekafiran itu. (Tafsir Hamka, hal. 7873)
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa orang-orang musyrik Quraiys merasa takut jika harus dihidupkan kembali setelah kematian karena kehidupan mereka bergelimang dengan dosa dan zalim terhadap makhluk yang lain. Sebagian mereka berbuat zalim dengan melakukan begal (qoth’u ath-thoriq) dengan membunuh dan mengambil harta kafilah dagang, sebagian mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup, saling membunuh antar suku kabilah, melakukan perdukunan santet, serta maksiat dan kezaliman yang lain. Sebagian mereka merasa bahwa memang itu adalah hal yang salah, sehingga sangat takut mempertanggungjawabkan perbuatannya jika nanti dihidupkan kembali.
Ini adalah salah satu akibat buruk dari dosa yang menumpuk selama puluhan tahun, menyebabkan takut bertanggungjawab di hadapan Allah. Bahkan pada titik ekstremnya menyebabkan seseorang mendustakan hari kiamat karena denial. Denial adalah mekanisme pertahanan diri psikologis di mana seseorang menolak mengakui kenyataan, fakta, atau emosi yang menyakitkan, meskipun bukti yang ada sangatlah jelas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ
“(Jangan dianggap sulit,) pengembalian itu (dilakukan) hanyalah dengan sekali tiupan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 13)
Pengembalian itu sejatinya sangat mudah dilakukan. Dengan sekali tiupan sangkakala saja, maka hiduplah kembali segala makhluk yang dulunya mati.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ
“Seketika itu, mereka hidup kembali di bumi (yang baru).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 14)
Para makhluk yang dahulu terkubur di dalam bumi, pada saat ini berdiri di atas bumi yang telah dibuat baru oleh Allah, menunggu keputusan dari Allah.
Syekh Utsaimin memberikan penafsiran pada ayat ini,
أنَّ الله إذا أراد شيئًا إنما يقول له: (كن) مرة واحدة فقط فيكون ولا يتأخر هذا عن قول الله لحظة ﴿كلمح بالبصر﴾ والله عز وجل لا يعجزه شيء، فإذا كان الخلق كلهم يقومون من قبورهم لله عز وجل بكلمة واحدة فهذا أدل دليل على أن الله تعالى على كل شيء قدير، وأن الله لا يعجزه شيء في السماوات ولا في الأرض
“Allah Ta’ala jika berkehendak melakukan sesuatu, maka Allah berkalam “Kun” (yang artinya jadilah) sekali, kemudian jadilah sesuatu tersebut di alam nyata tanpa terjeda sesuatu apapun, meskipun hanya sependek kedipan mata. Tidak ada satupun yang bisa mengalahkan Allah.
Ketika seluruh makhluk bangkit dari kuburnya dengan satu kalimat, untuk menghadap Allah Azza wa Jalla, maka ini dalil yang menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah tidak dikalahkan oleh sesuatu apapun, baik di langit atau di bumi.” (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 43)
[Bersambung]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath
Artikel asli: https://muslim.or.id/113295-tafsir-surah-an-naziat-bag-2.html